DEMA FEBI IAIN Kudus

Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2018

HARUSKAH KRITIK DISERTAI SARAN?




Dalam setiap kegiatan atau pekerjaan tentunya tak akan luput dari sebuah kritikan. Baik itu dari teman, keluarga, dan bahkan orang yang dikenal.

Dari situ, muncullah sebuah pertanyaan. Haruskah setiap orang yang mengkritik kita harus meyertakan saran untuk kita?. Banyak yang mengganggap kritik itu harus disertai saran. Karena kalau tidak, berarti orang itu bisanya omong saja. Benarkah demikian?

Dalam KBBI, kritik artinya kecaman atau tanggapan, atau kupasan kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Sedangkan saran artinya pendapat (usul, anjuran, cita-cita) yang dikemukakan untuk dipertimbangkan.

Dalam definisi di atas, dijelaskan bahwa kritik berbeda dengan saran. Dan poin penting yang perlu kita pahami bersama yaitu kritik tidak ada keharusan menyertakan saran, begitu juga sebaliknya.

Meminjam kata-kata dari Bung Rocky (seorang ahli filsafat), “Kritik itu fungsinya mencari kesalahan dan yang dikritik itu tugasnya mengevaluasi guna memperbaiki”. Jelas sekali beliau menjelaskan fungsi sebuah kritikan yaitu mencari kesalahan dan tidak harus disertai dengan saran.

Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change (agen perubahan) diharapkan bersifat kritis terhadap situasi  yang ada. Dan juga diharapkan mampu memberikan sebuah kritikan yang sifatnya konstruktif. Konstruktif dalam hal ini yang saya maksudkan adalah memberikan saran-saran yang solutif.

Kita buka diskursus ini ke ruang yang lebih komprehensif yaitu masyarakat umum. Misalnya, ketika ada seorang penjual telur di pasar mengkritik harga telur yang semakin meningkat. Haruskah si penjual itu memberikan saran? Tentu tidak kan?

Satu contoh lagi, ketika ada masyarakat desa mengkritik jalan yang ada di desanya yang sudah rusak. Haruskah mereka juga memberikan saran? Tentu tidak juga kan?

Sekian tulisan saya, wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariq.

Tertanda,
Aniq Akhmad Ali Bawafie
Staf PSDM HMJ Syariah dan Ekonomi Islam 2018

Rabu, 28 Maret 2018

HMJ STAIN Kudus Siapkan Kader Jurnalis



KUDUS,Suaranahdliyin.com – Menumbuhkan kesadaran mahasiswa akan pentingnya mengelola media, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Syariah dan Ekonomi Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus mengadakan pelatihan jurnalistik dan media sosial, di Gedung Rektoriat, Sabtu (03/03/2018).
Ketua HMJ Syariah, Muhammad Jamaluddin, mengatakan pelatihan ini diadakan untuk menyiapkan kader yang cerdas bermedia.
“Ada sekitar 30 peserta yang hadir, semuanya diberikan materi dan pendampingan untuk bisa mengelola media sosial dengan baik,” ujarnya.
Jamal juga menyampaikan kegiatan ini sekaligus menjadi program rintisan untuk mendirikan lembaga pers tersendiri di bawah naungan HMJ Syariah dan Ekonomi Islam. Menurutnya itu diperlukan untuk menampung aspirasi bagi mahasiswa Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam agar tersampaikan dan diperhitungkan oleh para pemangku kebijakan, utamanya di kampus.
“Nanti kalau sudah jadi IAIN, kita juga ingin mendirikan lembaga pers sendiri yang berfokus pada isu seputar mahasiswa syariah dan ekonomi Islam,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, peserta diberi materi soal jurnalistik dasar dan desain grafis. Selanjutnya untuk rencana tindak lanjut peserta akan diberikan follow up berupa materi teknis yang berhubungan dengan ilmu jurnalistik. Seperti berita, artikel, latihan memetakan isu, dan sebagainya.
“Saat ini saya coba menjaring kerjasama dengan Paradigma untuk menyiapkan itu semua,” jelasnya.
Menurut salah satu peserta, Ila Mardhatillah, pelatihan seperti ini penting untuk mengedukasi mahasiswa dalam mengelola media, utamanya media sosial.
“Jadikan media sosial tidak hanya bermanfaat di dunia tetapi juga meraih pahala dan kebaikan hingga di akhirat,” tulisnya dalam secarik kertas tantangan dari panitia. (rid)

Sumber : Suara Nahdliyin